Friday, 9 May 2008

hectic

hectic hectic hectic.... mm.. begini ya rasanya phased out.. huff....
kantor ini jadi terlihat lebih garagng(maksudnya?) ...pokoknya semua sibuk, suport, program ditambah lagi ada beberapa berita HR untuk beberapa staf (berita baik atau buruk).... belum dengan kesibukan DRR, belum kontrak driver yang habis di pertengahan bulan ini, belum ..belum.. belum... belum lagi gue yang belum mendapat kepastian.

Ciaatt.... kenapa kalian semua pergi saat begini, hati hati disituasi kantor seperti ini. Masing masing kita sangat sensitive, hubungan sosial juga gak seperti dulu hanya gara gara kerjaan!(lho, kok hanya siih)..... semua serba salah, gara gara yang diatas maunya segala sesuatu cepet selese tanpa memperdulikan contents nya...


brrr...

Monday, 28 April 2008

Satu lagi pergi

Nah!!

Sampai juga akhirnya hari ini... satu lagi orang pergi. Biar kuperkenalkan kalian pada tokoh yang tidak asing lagi ini. Nama belakangnya yang Djoko tidak membuatnya jadi pinter bahasa Jawa, meski dia sudah tinggal lebih dari sertahun di Jogja. Bukannya menjadi cewe kemayu, dia malah semakin mematrikan namanya di dunia per'toa'an. Ga salah kalau kadang-kadang aku bilang dia nelan toa waktu lahir.

Kantor pasti makin sepi ya. Setelah cowo sok pede yang pergi tahun lalu, sekarang gilirannya. Kos juga bakal sepi, ga ada yang ngetok2 pintu kamarku untu ditemani nyalain lampu, atau ngusir cicak di kamarnya. Ga ada yang teriak-teriak 'lapaaaaaaaar' di kantor. Plus, ga ada yang menjadi motor ulang tahun berikutnya di kantor. Siapa lagi yang nyiksa orang kalau bukan dia ya?

Well, the show must go on kata orang-orang. Kadang-kadang kita emang harus meninggalkan semua yang manis untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar lagi. Still, bukan berarti di sana ga semanis di sini kan Ta?

Seperti kata Mitch Albom dalam Tuesday with Morrie, kematian tidak bisa memutuskan hubungan. Nah... kalau kematian saja tidak bisa memutuskan hubungan... apalagi jarak yang cuma 3 jam perjalanan dengan pesawat kan ya?

Good luck for your new experience, dude!!

Tuesday, 15 January 2008

Satu Lagi Korban Pendidikan

Kemarin aku mendapat telp dari salah satu lembaga kemanusiaan yang sangat peduli pada anak. Karena aku menyantuni satu anak di sana, mereka memberiku kabar terbaru tentang anakku, yang sayangnya mengatakan anak itu di-drop sebagai anak santun, karena dia tidak sekolah lagi. Kenapa tidak mau sekolah, tanyaku. Sekolahnya jauh, kami sudah melakukan pendekatan bahkan menyediakan asrama, tapi anaknya tidak mau, jawab mereka. Lalu mereka menawarkan, apakah aku mau menyantuni anak lain sebagai ganti anak santun yang di-drop itu.

Awalnya aku menjawab tidak keberatan. Tapi kemudian aku berfikir, kenapa anak itu di-drop karena dia tidak mau lagi sekolah? Bukankah dia tetap anak meskipun dia tidak lagi sekolah? Usianya masih 16 tahun, dia tetap dianggap anak berdasarkan konvensi hak anak.

Aku merasa miris. Ini dia, satu lagi korban pendidikan. Kuceritakan kekesalanku pada temenku yang langsung menceritakan pada mereka. Aku sangat memahami penjelasan mereka, tapi toh mereka tidak bisa menjelaskan kenapa anak yang putus sekolah didrop sebagai anak santun? Hanya karena pendidikan sebagai indikator yang ada dalam logical framework mereka? Ampun dj!

Bayangkan seorang anak perempuan, anak dari ujung Papua, yang untuk mencapai rumahnya, kamu harus menggunakan semua alat transportasi yang ada, mulai dari pesawat, lalu kamu naik perahu, lalu motor dan kemudian jalan kaki. Anak di ujung Papua sana, tau apa mereka tentang pendidikan? Kenapa memaksakan pendidikan ketika mereka lebih butuh misalnya pendidikan tidak formal?

Gila, menuliskan ini rasanya ingin membuatku menangis. Aku benci kalo menulis dengan emosi tinggi, biasanya kalimatnya berjejalan ingin keluar. Apakah ketika mereka mau tetap sekolah, yang berarti akan mendapat penyantunan, berarti mereka bisa bersaing? Bukan, bukan itu maksudku, pertanyaan dasarnya: itukah kebutuhan dasarnya sebagai anak?

Sial!! Aku benar-benar ga tau harus menulis bagaimana.

Ok, begini, anak berhak mendapat pendidikan, berarti bukan wajib mendapatkan pendidikan. Sekarang, ketika kamu men-drop dia 'hanya' karena dia tidak mau sekolah, bukankah itu yang dikatakan dengan kewajiban? Aku sangat mengerti ketika kamu bilang, kita tidak memotivasi anak ketika dia tidak sekolah, kita tetap memberi mereka santunan. Oh for god sake, aku sangat mengerti pola santunan yang kamu maksudkan, saya pernah di sana sebelumnya. Ketika saya bilang saya menyantuni satu anak, uang yang saya berikan tidak bulat-bulat diterima anak itu. Bahkan ada anak yang tidak ada penyantunnya pun bisa mendapatkan pelayanan.

Saya, tidak pernah keberatan anak santun saya sekolah atau tidak, sepanjang dia bisa mendapatkan fasilitas yang bisa membuat dia mendapatkan life skill. Informal education misalnya. Atau apalah, yang sesuai dengan kondisi di sana. Tau ga pengarang Musashi itu bahkan tidak lulus SMP? Tau ga, temenku orang Indonesia yang tidak lulus S1 45 juta sebulan, mengalahkan mantan bossku yang PhD? List ini akan bertambah panjang. Seandainya semua orang sepakat seperti buku "Sekolah Itu Candu" atau "Sokola Rimba" seandainya semua tidak melihat seperti Departemen Pendidikan.

Aku tau, aku terlalu emosional. Tapi aku juga tau, ada banyak anak di Papua sana yang nasibnya sama dengan anak santunku.

Wednesday, 31 October 2007

What Being Sick Could Mean

What Being Sick Could Mean

I came to in a hospital, completely overwhelmed with nausea and ever lasting headache. ‘What is wrong with me?’ I thought. I was hoping so much that the doctor could explain what it was with me when he ran a thorough check up. It ended in disappointment as he failed to diagnose the disease although eh claimed he recognized the symptoms. For the time being, he prescribed a handful of medicine to take repeatedly in a day, way much more compared to my food intake.

Then, I spent most of my days running various medical checks - up – city scan, blood test as well as urine test. I never imagined that all those alien gadgets would be used to me. The sound of body scanner and the feeling of blood shot lingered deeply in my mind. At the end of every test, I crossed my fingers very tightly hoping so much that it would bring any good results.

After the third day, doctor had not been able to firmly say something about my health condition. I began to wonder if it would ever be found. ‘Could it be something new? What if it were? What if it were some lethal incurable disease?’ My head was overloaded with presupposition and misled judgment. Suddenly I began to see things - our wedding, our four - year old marriage, our lovable son, Ito’s birthday, his first utterance, his smile, my wife’s warmth, her fragrance, her smile, my undisciplined yet witty students, my loving friends at the office. They all flashed before my eyes. ‘Could this be it? Who is going to take care of my son? What about my job and my programs?’ All those questions continuously popped up in my no - pop up blocker mind.

It was in this state that I had a chance to meet many saviors.

Alongside my bed in the hospital was my faithful cousin – Ivan. He came to my house actually to spend his first – time - in – the – year break at my house – the place he thought he was very much welcomed. Yet, seeing me lying helplessly in the hospital was a feeling he could not stand. So, he made up his mind to stay beside me going through all of this. He was the one who relentlessly passed my ‘vomit’ basin, my tasteless meal and my packages of medicines – no matter how tired and sleepy he was. God knows what he is made of. He stayed on my side until his break ended on my fifth day in this confinement.

Every once in a while my wife visited me. She always tried to look tough in every visit and hid behind her sweet smile and warm comforting words. I swore I could read some signs of worry written in her face every time though. She always brought Ito along but I deliberately prohibited her to bring him in until the doctor diagnosed my disease. I missed him more than anything but bringing him in and risking that tiny innocent creature with my undiagnosed disease was just not a choice. Yet, I could feel his presence through his mum and it lighted my spirit up to get out of this hell sooner.

My mum also came whenever she had a chance - quite often for a 70 – year – old woman with a complication of weak heart and nerve disorders. She, however, was a very poor actress. She could not hide her worry over her youngest son’s condition and chose not to look at my facial expression (my pain was written all over my face). On the other hand, she chose to sit outside the room and pretended to be okay. As she went home, she would immediately ring me and ask me to hang on – not putting that kind of expression on my face anymore for it made her sad and worried. The lingering pain did make it difficult for me to pretend. I completely understood her worries though.

Friends were also some of my many saviors. They managed to squeeze in some time between their tight schedules to pay a visit. They worked hard to put smiles on my face. It did not always pay off but it felt like they put some chocolate on top – very encouraging.

Whenever family and friends left, I began to cherish the mighty blessings God had been given to me. I never did anything good, said no words of comforts, sent no greeting cards for their special day nor sent prayers to them, but look what they had given me in return. I had been bad, dishonest, insincere and unfaithful to everybody; yet what they did to me was the other way around. I realized that, other than the fact that my body was giving me a ‘red light’ warning to me to hold on my horse, I was meant to see how much blessing I had been given – great family and great friends and how I should be thankful for those I had received. This is one meaningful disease I had to suffer.

On the fifth day, the doctor finally diagnosed that I was suffering from Hepatitis A. I had to stay for another five days in the hospital and yet another five days at home, but with great blessing, love and prayers from family and friends, the disease immediately eased up and eventually completely cured. I am now up and around and start life as a better person. Thank you, Ivan; thank you, Dear Simbok; thank you, Ito; thank you, Mum; thank you, friends.

Friday, 5 October 2007

Apa Dedikasi itu Sebenarnya?

Ya, sebenarnya apa sih dedikasi?

Bang Dedy? Hmmm... mantan auditorku dulu itu emang baek banget. Aku suka... menertawakannya!! kekekeke. Atau Mas Dedi? Nah, cowo seksi yang satu ini bisa merusak otak kita, bertiga malah berniat bersaing untuk mendapatkannya. Mata yang sangat luar biasa, dengan senyum manis dan ber-dedi-kasi.

Eh... jadi apa itu dedikasi?

Aku ga tau.

Norak! Jadi kamu mau ngapain sebenarnya?

Eh, kok malah nanya? Kirain kamu mau cerita, apa itu dedikasi? Bukannya kamu tau apa itu dedikasi?

Kalo aku tau, kenapa nanyak?

Ih, jadi pemarah. Orang pemarah itu berdedikasi ga yak? Kekekeke... Jujur, aku ga tau. Ada yang bilang, Butet Manurung ber-dedi-kasi. Jadi apa? Apa karena dia punya Dedi? Atau... (senyum sok bloon)

Hiiiih....!!

Ok... ok. Aku bukan ahli bahasa. Entahlah. Dan aku juga tidak menyebutkan diriku berdedikasi. Tapi kalo ga salah kata itu berasal dari kata dedicated kan? Atau bukan? Ah, pertanyaanmu susah. Wiken gini harusnya nanya yang gampang, kaya... besok jadi nonton ga? Ke tukang jait kapan? Facial? Spa? Orang kayaaaa...

Trus... trus...? Apa lanjutan dedicated tadi?

Apa ya? Aku juga ga terlalu ngerti tentang dedikasi itu, makanya menurutku kamu bertanya ke orang yang salah. Kalau emang benar dedikasi berasal dari kata dedicate tadi, ya, berdedikasi itu sebenarnya istilah relatif. Berdedikasi pada apa? Misalnya, lagi-lagi Butet Manurung, dia berdedikasi sama masyarakat pedalaman, rimbawan. Tapi dalam hal ini, dia pasti tidak berdedikasi sama... siapa ya? Lembaganya dulu? Mungkin... ah, pertanyaan yang membingungkan. Pertanyaanmu cuma satu, kenapa aku ga bisa menjelaskannya ya?

Orang-orang NGO suka dibilang, harus berdedikasi. Berdedikasi sama siapa? Kemaren waktu aku terlibat di JE, salah satu pihak yang harus kita beri pertanggung jawaban adalah juga masyarakat. Kalau begitu seharusnya kita berdedikasi sama masyarakat yang kita bilang kita dampingi, kita bantu dong?

Jadi?

Jadi....? Ya... tergantung sih, kamu berdedikasi sama siapa? Tinggal pilih, sama masyarakat, sama bos, sama organisasi, sama Tuhan yang memberikan kamu kesempatan itu. Aku juga ga tau, tapi beberapa tahun yang lalu, aku merasa lelah dan marah pada tempat aku kerja dulu. Aku marah sama bosku, dengan semua sepak terjangnya yang membuatku muak. Aku marah sama organisasiku yang menurutku mengubek-ubek kondisi masyarakat atas nama development dan meninggalkannya begitu saja, yang membuat kondisi mereka bahkan lebih buruk dibanding sebelum organisasi itu datang. Mereka, ah ga, aku ada di dalamnya, membuat semuanya lebih buruk dari sebelumnya.

Kamu kecewa? Marah?

Aku punya hati, aku punya mata, aku bisa merasa. Hanya orang-orang ndableg itu yang masih anteng di posisinya. Keenakan. Bagaimana mungkin mereka bisa bicara soal improving live, ketika mereka sendiri hanya kejar tayang? Bicara berapa duit yang sudah didistribusikan untuk program tertentu... bicara indikator yang diukur, bicara bagaimana mengukur, bagaimana membuat report. Tapi mereka ga bertanya yang paling penting: APAKAH MASYARAKAT MENGALAMI PERUBAHAN (TRANSFORMASI)?

Kamu terdengar marah.

Marah, kecewa. Semua. Aku sempat pundung waktu itu. Sampe seorang bapak beruban, melihat, mengajakku bicara. Aku masih ingat dia bilang apa. Dan, mungkin karena itu, aku ga terlalu pusing dengan apa yang dimaksud dengan berdedikasi... atau mungkin itu juga yang dimaksud dengan berdedikasi ya? Ga tau juga d.

Oh ya? Dia bilang apa?

Ketika kamu create suatu program dan kamu tinggalkan, kamu tidak ubahnya seperti pemuda yang menghamili pacarmu dan meninggalkannya. Analogi yang aneh, jelas-jelas aku cewe. Lagian, mana mau aku dihamili sebelum dinikahin. Pernah waktu itu aku sama cowoku... eh... ngomong apa sih? Salah...

Iya, itu yang dia bilang. Seperti itulah yang kamu lakukan. Jadi... sampai batas-batas tertentu, bekerjalah terus, ciptakan perubahan di sekitarmu, mulai hari ini, mulailah dari dirimu sendiri. Heran, dia mengatakan ini jauh sebelum AA Gym mempopulerkannya. Junjunganmu, bukanlah bossmu. Menyebalkan ketika dia melakukan banyak hal yang kamu tidak suka. Saya kenal baik bossmu. Junjunganmu juga bukan organisasi ini, meski punya banyak nilai yang luar biasa bagus, serasa di surga. Junjungamu adalah Tuhan, yang mengijinkan kamu bekerja di sini, mengijinkan otak dan hatimu bekerja dalam waktu yang bersamaan. Juga masyarakat yang menjadi tanggunganmu.

Hmmm... Jadi... ini tentang Tuhan dan Masyarakat? Dedikasinya ke sana?

Itu menurut dia, yang kemudian aku renungkan. Dia bilang gini lagi, organisasi bisa punya banyak sekali konsep, cara, strategi yang kadang tidak kita pahami. Tapi ketika perubahan kecil kamu lakukan, kamu akan merasa berbeda. Lupakan si .... (dia menyebutkan bosku dengan nama yang tidak pantas kutulis di sini). Dia itu... (sorry, aku ga berani). Tapi, ingat masyarakatmu, ingat Tuhanmu. Mari belajar bertanggung jawab. Kalau kamu memang harus pergi, berkreasi di tempat lain, tetaplah bawa sudut pandang ini, supaya kamu tidak kecewa. Vi, masyarakat... somehow, tidak akan mengecewakanmu. Apalagi Tuhan. Jadi... kalo bos dan organisasi mengecewakan... well, kamu masih punya back up masyarakat dan Tuhan kan?

Kamu ingat KSM-KSM yang kamu bangun? Perubahan apa yang kamu lihat dari mereka? Bersukacitalah untuk setiap perubahan yang kamu lihat, sekecil apapun. Karena mereka tanggung jawabmu. Aneh rasanya dia bicara begitu. Dia ngomong akuntabilitas jauh sebelum aku mempelajari bahwa yang dia sebut itu akuntabilitas.

Tuhan dan masyarakat. Hmmm... aku kayanya pernah dengar kata-kata itu ya. Pro Deo dan apa gitu?

Anyway... sampai sekarang aku belum bisa memberikanmu informasi penting tentang apa itu dedikasi. Aku sendiri belum merasa berdedikasi. Satu hal yang pasti, aku menuju ke sana. Dan aku sangat ingin selalu mengingat kata-kata bapak beruban itu. Itulah sebabnya ketika seorang bapak botak mengirimka imel padaku menceritakan tentang tanggung jawab kerja kepada DIA, aku langsung tersentak, betapa bicara dedikasi -- kalau memang yang kusebut tadi dedikasi -- perlu selalu diingatkan. Butet Manurung aja kadang-kadang kecewa dan ingin berenti kok.

Sorry ya, aku ga bisa menjelaskan tentang dedikasi itu. Satu hal, aku hanya memegang apa yang aku pikir menjadi tanggung jawabku. Bersuara ketika harus. Bertindak. Dan pergi ketika harus. Semuanya dengan alasan... untuk Tuhan dan Masyarakat. Bukan untukku, bukan untuk organisasi, bukan untuk bos.

Semua orang sah-sah saja punya sudut pandang berbeda.



Tuesday, 25 September 2007

chocolate wishes and vanilla dreams

Dulu waktu masih kecil, saya memohon kepada DIA agar diberi saudara laki-laki, sehingga saya bisa bermain segala permainan yang hanya saya bisa lihat dari tetangga or teman-teman saya yang cowok. atau agar ada yang membela saya ketika teman-teman saya jahat dengan saya.

Ketika saya remaja, saya berharap agar si doi mau melirik dan memiliki perasaan yang sama dengan apa yang saya rasakan. Kadang pada saat ini saya juga berharap agar saya lebih cantik, lebih tinggi, lebih kurus, lebih putih ataupun rambut saya bisa lebih berombak...sehingga banyak yang memuji saya. Juga agar cita-cita saya sebagai arkeologi terkabul.

Waktu saya berumur kira-kira awal 20-an, saya berharap agar saya bisa lulus kuliah lebih cepat, bisa dapat kerjaan di suatu perusahaan yang bonafide, and dapat pacar yang sayang banget sama saya(regardless of how do i feel about him)

Nah...yang saya pelajari dari semua permintaan saya adalah..it's all about me...never about others. lalu, ketika umur saya bertambah di pertengahan 20-an, saya sadar bahwa saya tidak pernah benar-benar fullfilled with everything that i have. Lalu saya lebih senang melihat orang lain senang....itu kebahagian buat saya.

Umur saya bertambah, saya belajar, kadang DIA tidak mengabulkan doa dan permohonan kita karena dia akan menggantikannya dengan sesuatu yang akan membuat kita semakin menghargai apa yang kita miliki.

Sebagai contoh; saya memang tidak dapat saudara cowok....tapi saya bertemu dengan teman-teman cowok yang amazingly incredible person, yang selalu ada ketika saya membutuhkan, yang mengajari saya banyak hal...yang membuat saya tersenyum, yang membuat saya menangis.

Si Doi yang saya harap melirik saya tidak pernah melirik saya, tapi saya jadi semakin tahu apa yang saya inginkan bila saya bertemu dengan the one. saya juga tidak makin cantik, dll secara fisik tetapi saya bertemu dengan banyak incredible women yang mengajarkan bahwa beauty is not only skin deep, dan setiap wanita itu memiliki karakter tertentu yang membuatnya cantik.

Saya mungkin tidak menjadi arkeolog seperti Indiana Jones, tetapi saya bekerja di suatu tempat yang membuat saya belajar banyak hal, bertemu dengan orang-orang yang luar biasa...mempelajari hal-hal yang membuat saya semakin menghargai apa yang DIA telah berikan pada saya.

Dan hal yang saya sadari dari akhir 20-an ini adalah, kebahagian saya adalah melihat orang lain bahagia, melihat orang lain tertawa, melihat orang lain senang...Jadi saya semakin yakin I do get my wishes, but not in the way i want, but in the way that i never really expected, in a way that make me believe that there is a meaningful life for each and every one of us!!!

This dedicated to all of my best friends....i love you all!!!

Monday, 24 September 2007

Masa Kecil dan Cinta Orang Dewasa

Semua orang pernah kecil, coba aja bayangkan bagaimana rasanya mengeluarkan seorang Evi dari perut ibunya kalo dia langsung segede sekarang? C'est impossible!

Ketika aku sedih, aku seringkali berharap aku menjadi anak-anak. Apa sih yang mereka pikirkan? Mereka tidak perlu memikirkan boss yang ga asik, ga perlu berurusan dengan temen yang nyebelin, kerjaan yang monoton, keluarga yang demanding, termasuk pacar yang... ga dapat-dapat!!

Masa kecil... dengan baju yang seadanya, Tita malah punya foto yang ga punya baju ketika dia berumur 6. Di meja temen baiknya. Masa kecil, dengan semua permainan tradisional itu, bermain lumpur, lompat tali, gobak sodor, masak-masakan dan menjual. Masa kecil dengan semua makanan jajanan yang sekarang pasti susah dapatnya, coklat ayam, permen pedes, kue-kue dengan gula keringnya, permen rokok, telur cicak... termasuk permen payung. Ketika kecil, kita sering kali ingin cepat-cepat besar. Aku ingat, ketika berumur 6 tahun dan dua bulan lagi akan ulang tahun ke-7, aku selalu meng-claim diriku sudah 7. Padahal secara ilmu kependudukan dan survey, kita masih dianggap 6.

Lalu kita besar. Menjadi orang dewasa secara hukum (meski kadang kita bersikap seperti anak kecil di umur dewasa). Kita jatuh cinta. Lalu kita terluka. Kita malah sekarang dengan sangat sadar mengurangi umur... kalo belum harinya, masih ngaku umur yang kemaren. Temen saya, yang berulang tahun hari ini malah bilang dia berumur 26B, karena menurutnya 27 itu menakutkan. Temen saya yang lain, bilang 42 itu menakutkan, sudah dekat dengan 50.

Pagi ini, aku mendapat pengalaman kalau masa kecil yang bahagia itu bisa diwujudkan dalam cinta orang dewasa. Cinta yang tidak pake syarat, yang terus mencintai, meski yang dicintai menjatuhkan cintanya pada orang ga asik, tidak tau berterima kasih dan... ah sudahlah! Cinta yang terus diberikan, meski yang dicintai masih dalam kebimbangan dengan apa yang dia rasakan. Cinta... yang memberikan kenangan masa kecil dalam bentuk nyata, berupa kiriman seperangkat (bukan alat sholat) makanan tradisional masa kecil.

Ah... kisah romantis selalu membuatku terharu.

Masa kecil itu pastilah sedang meloncat keluar sekarang... bersama mainan yoyo, permen davos, coklat rokok, permen payung... ah... masa kecil itu, kebahagian masa kecil itu ternyata belum hilang ya.

Tiba-tiba saja aku menjadi sentimentil begini ya...

Senang bisa melihat kalau banyak cinta tulus, cinta sejati di sekitar kita, di tengah-tengah ketidakjelasan yang sering kita temui. Dia... membawa rasa bahagia masa kecil itu, tanpa harus menjadi kekanak-kanakan.

Rasanya... begitu nyata, tapi juga... sulit dipercaya!

Hari ulang tahun itu selalu menyenangkan ya Ta. Tapi aku yakin... hari ini pasti luar biasa. Amat sangat. Aku percaya kamu luar biasa bahagia. And I'm happy for you.

Happy birthday, Ta! Happy birthday. Tiba-tiba aku sudah tidak sanggup menulis lagi. Percaya satu hal: cinta itu ada. Cinta sejati itu ada... dan kamu sudah membuktikannya. Terlepas dari apa akhirnya... setidak-tidaknya kamu beruntung bisa merasakannya.

Again, happy birthday, dear!!

Tuesday, 18 September 2007

Gloomy end of year

Akhir tahun..terutama 2 tahun terakhir ini selalu bikin aku pengen marah dan teriak jengkel, kenapa?
well, for a starter saya selalu harus berpisah dengan teman/orang yang sangat berarti dengan saya....

Tahun kemaren, Mbak Diny (SPO tercinta saya, dan juga orang yang mengajari saya banyak hal) memutuskan untuk pindah ke Merauke, mengikuti suami tercinta...padahal saya sedang merasa dekat2nya dengan mbak diny, merasa bisa menyerap ilmunya, nasehat2nya, filosofinya. Ketika saya sudah mulai recover dari perasaan kehilangan yang begitu besar, saya diuji lagi dengan harus berpisah dengan teman saya yang lain, Mas Afit, hicks...sedihnya gak ketulungan, i mean dia itu jujur banget sama saya....kalo saya salah or norak saya kambuh dia pasti ingetin, dia juga gak pelit ilmu....professionally advance deh....

Belum selesai dengan itu, saya sudah harus menghadapi kehilangan orang yang sangat dekat dengan saya, orang yang saya sia-siakan, orang yang saya take for granted seumur hidup saya...teman baik saya, my childhood friend, my ex BF, my bestest buddy, my norak partner, my culinary partner....Johnny.

Yap...saya harus berpisah dengan dia tahun ini juga, ketika dia memutuskan untuk pergi dan melanjutkan sekolahnya. Saya tidak pernah merasa kehilangan yang begitu dalam sampai sekarang...dulu padahal kalau dia mulai sering ganggu saya, saya selalu teriak dan bilang i need a time of my own John!!

Eh sekarang, saya bener2 kangen sama dia(padahal dia belum pergi), membayangkan saya gak bisa telpon dan cerita bahwa saya patah hati, kecewa, sakit, n stress berat ke dia sewaktu2 sudah membuat saya pengin menangis...

Saya menyesal, tidak pernah giving him enough time to let out what in his mind, tidak pernah benar2 mendengarkan mimpi dan harapan dia....jadi ketika dia memutuskan untuk pergi saya malah marah dan merasa bagaimana saya kalo gak ada kamu?

Padahal kalau dia teman baik kita..kita harus membiarkan dia untuk berkembang, mendukung dia ketika dia memutuskan sesuatu yang dia yakini (maafin aku ya John....:(

Mungkin seperti apa kata Evi, saya sedang diajarin oleh Tuhan untuk lebih menghargai orang-orang yang sangat berarti buat saya...orang-orang yang sudah meninggalkan jejak2 yang sangat berarti dalam hidup saya.

Maafin ya Mbak Diny, Mas Afit n Johnny kalo saya kadang, bahkan sering tidak menghargai kalian...sering take you all for granted...
Juga buat teman-teman yang lain...i love you all!!

Tuesday, 11 September 2007

Mbuh

“Get up man, let me show you exactly why we live” a friend of mine slapped my head, attempting to tap my energy. The next minute, off we went to a midnight club somewhere in the heart of the capital city. As we arrived, we were immediately welcomed by thundering sound of house music and dozens of women in mini (super mini) skirts – so short that it barely covered anything. “Look here man; this is exactly why we have to live” said he while coiling his arm to one of the short skirts “happy to be alive”. He immediately plunged himself into the crowd of fun lovers on the dance floor.

As he left, I looked around the place to look for a comfortable spot, perhaps in the corner a little bit distant from the crowd. I landed on a stool at the bar before the dizzying arrays of Chivas Regals, Martinis and Tequilas. “Is this it?” I asked myself. Among the hustle and bustle of this night life, I was drowned in deep thought of the purpose of life. “No way” I thought out loud “If this deafening music were the reason to live, I would have to redesign my entire life”. I sat on the stool for half an hour solely accompanied by my Belize before I decided to hail a taxi and went straight home. Half dizzy and half drunk, “Why live?” my thought kept on asking my entire sanity.

“Why live?” mum repeated my question. I did ask her several times about it – thinking that being a catechist, she would have been able to figure the answer out. I thought wrong. She would start preaching me on living for others and for Him every time and I would intentionally deafen myself.
“Why bother asking that question, while you are still very young? Why don’t you just enjoy it? Now look what you have brought yourself into”, my mind blamed my conscience. They must have been too tired fighting, a moment after, both were silent. I was yet pleased.

“Listen and you shall hear, watch and you shall see”, a heavily bearded thin old man said. My mum’s friend brought me to him, claiming that he might be able to help me out or at least ease my curiosity. “If you really look deep into yourself and listen to what you yourself actually tell, you shall find the answer to the question”, he murmured, leaving me puzzled. “You shall be able to do it if you can control your consciousness. It is what set us apart from the dead”. That night, I thanked him for putting the chocolate on top,” Now, my confusion ends, replaced by a mystery”.

It took me a few years to realize what he said. “How many times in life do I actually listen to myself?” I listened to people, to desire, to wishes, to expectations – all but myself and conscience. “How many times do I look back and actually see who I really am?” He did mean something after all.

Today, every now and then, I practice to listen more. The more I listen the more I learn. I listen to liars to learn honesty. I listen to chatterboxes to learn the importance of silence. Every now and then, I take some distance and see myself for even a mountain is invisible before our eyes. “Look, you are off the track”, I sometimes say to myself from a distance.

The question “Why live?” remains unanswered. Yet, until the day I find the answer or a way to figure it out, I will keep on listening to and looking back to myself.

Monday, 3 September 2007

Luck itu apa ya???

Wah...hari ini kita sedang membahas luck, is it exist or not? menurut saya kadang Tuhan memberi kita contoh orang yang sebegitu mudahnya mendapatkan semuanya tanpa pernah berterimakasih atas pemberian-Nya. (terimakasih disini bukan berarti hanya berkata terimakasih Tuhan, tapi lebih dari itu....dengan menunjukkan sikap or attitude yang show that we are thankful too)

Gak bohong kalo kadang saya juga jengkel melihat ada beberapa orang yang begitu mudahnya mendapatkan sesuatu yang menurut saya lebih pantas diberikan ke orang yang memang seharusnya, tapi saya jadi teringat dengan perkataan teman saya "kadang-kadang Tuhan akan terus memberi semua keinginanmu dengan mudah, hingga kita kadang-kadang melupakan-Nya, karena dia sedang menguji dengan kemudahan itu..."

Well agree or not....kadang itu terjadi....tapi dipikir-pikir saya senang kok walaupun i have to work twice or even three times harder than other to get that certain things that i longed for....ada kepuasan tertentu dan rasa menghormati yang sangat tinggi....

Luck=whatever!!!!

Friday, 31 August 2007

Kalau Nanti Aku jadi Bos...

Kalo nanti aku jadi bos...

Aku akan sangat menghargai hasil kerja staff-ku,
aku tidak membiarkan suamiku menjadi Tuan Bos...
aku akan menganggap staffku sebagai partner, bukan bawahan
karena aku ga akan dianggap bos kalo ga ada mereka

Aku akan berbicara secara pribadi buat mereka yang menurun kinerjanya
akan kutepuk pundak mereka yang berusaha keras dan mengatakan 'good job'
akan kukatakan hasil kerja ini kerja tim, tidak melulu hasil kerjaku

Kutunjukkan menjadi bos, bukan berarti berjarak
aku akan menjadi teladan buat mereka, terlepas dari semua kekuranganku
kutunjukkan tindakan sesuai dengan kata-kata
instead of mengatakan 'saya pasang badan', aku akan bilang, 'bagaimana saya bisa membantu Anda untuk bekerja lebih baik?'

Kalau nanti aku jadi bos,
aku ga akan jadi bos,
aku akan jadi pemimpin, berusaha jadi teladan
melihat semua potensi... mencari solusi, bukan masalah

Tuhan... aku tau itu berat,
karena itu, bila menurut-Mu aku belum pantas, biarlah aku menjadi bawahan yang selalu belajar
kalau waktunya tiba, ingatkan aku, kalau jabatan yang Kau berikan
seharusnya kupegang dengan penuh tanggung jawab
Amin

Thursday, 23 August 2007

Life is full of surprise

I woke up at 5 a.m. so full of energy to go fishing with my (not so dearly) father. Just before we hit the street, that very father of mine cried for a decent breakfast - a pincuk of gudheg. So, in the misty morning, with chills hitting my entire (much hairier) head, I rode down the street with my (huge .. oops) beloved mom to our relative's gudheg stall around the market. It was, as usual, crowded, everybody seemed to crave for good food in the mornin' (reminds me of y'all). Mom was busy chosin' n pickin' n chattin' when .... BAM .... that shock struck. Everyody ran for their life. I must have been the Mr. Market at that time - everybody ( I mean it) screamed and hugged me, held me like they never let me go. So this is the feeling (hello Broadway ... hello Hollywood) of being a superstar. Too bad, they were all either simbok-simbok, simbah-simbah or ibu-ibu. Next thing I know... BAM... I was heading to my home," Gosh, there goes my beloved house", I thought. Then, ... BAM... I faced an immense crowd, heading uphill. "Tsunami's comin'" cried all. ....BAM...no way.. BAM... I dont give a damn! No one shall stop me, I am on a mission here. Next... BAM.. one dead body ...BAM ...two..BAM ... many ... BAM...countless. Next thing ...BAM.. I set up my own relief center. After that...BAM.. my bule friend called, then ...BAM... I was a logistic fixer .. what the hell is this post? ...BAM... good news, Ito's mom got pregnant.( I dont remember which trial was succesful)... BAM...there comes my SPO Education ...BAM... Ito was born...BAM...BAM..BAM I got too many BAMs already. Just look at it, life is full of surprise. You ar enever too ready for it.

Wednesday, 22 August 2007

The new begining....(Part 1)

Semuanya mulai dengan bosan, waktu itu saya ditengah2 kejenuhan akan pekerjaan saya di suatu lembaga konsultasi pendidikan, sampai pada tahap dimana pergi ke kantor supaya ketemuan ama teman-teman saja atau untuk mengisi waktu.

Waktu jam makan siang saya membaca koran lokal dan disana ditulis lowongan untuk PO-Education untuk islamic school. Waktu membaca lowongan itu saya pikir ini sangat menarik walaupun jujur saja saya gak ngeh apaan seh ini. Dan saya tulis email lalu kirim. Kira-kira seminggu kemudian saya ditelpon oleh M'Diny(SPO saya di pontianak) dan disuruh datang ke kantor (yang saya yakin banget...alamatnya kan di komplek perumahan gitu).

Pergilah saya ke kantor itu (masih ingat jam 9 pagi, saya pakai baju warna ungu yang sekarang hilang entah kemana), pas di depan kantor itu, saya di cegat ama security yang kayaknya terkaget-kaget lihat saya(mungkin rambut spiky saya yang warnanya memang shocking itu, ada hint brown gold dan copper blonde....bayangin aja....wuiahahahhahaaha), terus belum lagi saya sibuk banget komplain kok gak ada tempat parkir mobil sih...

Masuklah saya ke ruang tunggu, and ketemu ama m'ningsih(yang dengan mata terbelalak nawarin saya minum....) terus diseblah saya duduk 2 orang yang modelnya bener2 mahasiswa IAIN or guru agama(tanpa mendiskreditkan mereka ya, malahan saya jiper...please deh what do i know about islamic education)- terus mereka tanya nama, tanya pengalaman (yang saya ingat yang satu guru di madrasah yang lagi ambil s2 pernah kerja di IOM, yang satu lagi mahasiswa IAIN yang juga kebetulan ngajar di Madrasah...), tentu saja saya mau teriak dan bilang "what did i do..gila ya....udah gua mau cabut aja"

Dan ketika melihat orang-orang itu keluar dari ruangannya bu Nuri, saya bisa lihat mereka yakin banget. Datanglah giliran saya, masuk ke ruangan itu saja sudah menyeramkan. Bayangin disana sudah duduk Bu Nuri, Mbak Dinya(yang dua2nya pake kerudung dan kelihatan amat sangat professional) lalu ada Bu Mandy. Mereka lihat saya aja kayaknya udah sangsi berat gitu...lalu pertanyaan demi pertanyaan terucap...masih ingat banget ditanyain tentang advokasi dan denga sukses saya malah nanya balik (ke bu Mandy.."what is advocacy?never heard that word before ")

Berikut keluar dari ruangan, saya disuruh test tertulis, and pertanyaannya tentang perubahan apa yang akan saya lakukan bila saya kerja di islamic school (mampus deh..what did i do again??)- saya masih ingat kalimat pertama di essay saya " I have no previous experience that make me better that other candidates especially on islamic school, but i can assure you i'm more than glad if i can make a positive changes in these program...."

Dan pulanglah saya, tapi saya gak langsung masuk ke kantor lama saya, malahan ke showroom dan cerita sama temen baik saya...yang selalu terkaget-kaget dan menertawakan apa yang saya lakukan. Waktu itu Ronny juga masih ada(may God rest his souls) dan bilang, saya memang orang iseng dan paling nekat yang pernah dia kenal...saya cuman senyum-senyum gak jelas.

Lalu karena sudah sore, saya pikir saya mau langsung pulang....dan dalam perjalanan pulang itu saya ditelpon m'Diny dan she said the sentences that change my whole entire life...."setelah test tadi, Tita kami tunggu utk penandatangan kontrak....". Jujur perasaan saya senang...tapi juga kuatir, what kind of job wait for me.

Besoknya saya langsung tulis surat resign, langsung cabut gak peduli nasib kantor yang lama. Dan minggu depannya saya mulai masuk kantor, dikenalkan ke setiap staff -yang pertama Mas David(nice person, tapi kayaknya tengil deh. and garing...emang iya....), terus Mas Deny(wah diem banget ya...senyum-senyum...kayaknya santun-padahal setelah tahu aslinya..please deh...), lalu Mbak Ida(wah...berkerudung pula orang ini...pasti udah hebat banget neh..and cerewet banget), lalu Mbak Ningsih (wah helper yang baik...pinter masak, keibuan lagi....).

Tentu saja Mbak Diny(salah satu orang yang memberi saya kesempatan untuk berubah...baik, sangat senang berbagi ilmu, kakak yang baik). Then here we go, my first week...dengan segala induction yang pernah ada. Induction pertama tentang CPP dong....dua hari penuh euy, berikutnya finance and logistic yang disampaikan penuh dengan tidak ada niat oleh Mas David dan Mas Deny yang lebih banyak hahahihihi, lalu berikutnya tentang program yang disampaikan oleh Mbak Diny(gua takut berat euy.....tapi ada rasa ingin belajar yang lebih besar gitu)

Terus setelah digodok dan sempet ditinggal sama mbak2(Mbak Diny and Mbak Ida), dan langsung disuruh atur2 jadwal baseline survey ke delapan Madrasah.....jadi bayangkan, saya sudah gak tahu apa-apa, disuruh atur jadwal, kirim undangan ke madrasah-madrasah itu, and sekalian memperkenalkan diri. So here i go, mengantar undangan dan kenalan(masih ingat drivernya Pak Parman-yang keliatan galak dan badannya gede, gak pernah senyum, diem aja selama perjalanan....tapi setelah kenal baikkkkkkkkkkkkkkkk bangetttttttttt dan sayang bangeeeeeeet sama kita di LAPIS.....)

Kenalan deh sama madrasah-madrasah yang jadi partner, banyak yang kayaknya gak terlalu seneng sama penampilan luar....harus diubah, itu kata-kata yang keluar dari hati saya. So sorenya saya pergi ke salon langganan, rapiin rambut make it normal.

Lalu, setelah itu datanglah saat saya harus mengantar undangan ke salah satu madrasah yang tempatnya nun jauuuuuuuuuhhhhhhh di ujung dunia, namanya MIS Darun Nasyiin, untung waktu itu ada Mbak Yuyum (orangnya baeeek, ribut, ribut.....tapi mau bagi2 ilmu juga) dan Mbak Ida(yang sudah kembali dari pelatihan). Wah....wah, tempatnya gak terbayangkan...(will continue....with pics ya!!)

Tuesday, 21 August 2007

kok gitu ya....

Wah kalian sampai hati cerita tentang dia...our long lost dearly beloved Mas Afit(bo...gua sedih gak ada lu....hicks....hicks....)

Dia gak ada di kantor itu kayaknya ada yang kurang pas; pagi2 biasa ada aja yang komentar aneh-aneh, or jam 430 ada yang disturb kita, or ditengah-tengah jam kantor "Titaaaaaaaaa......sini!!!" lalu nunjukin aku hal-hal yang lucu or aneh. Terus pas jam pulang kantor gak ada yang teriak-teriak "mau kemana neh..." or "Ibeng/Mas Chairun...pulang yok"

Hicks...aku kangen banget ama kamu mas(lucunya...padahal kalo mas ada aku suka jengkel juga....)DUDE balik dong...gua beliin deh jam guess yang kemaren lu tunjukin.....

Kangen Mas!! Huaaa...

Ini hari kedua kamu ga ada di kantor...

Tau ga, Senin pagi, Dessy bawain pesanan kita. Biar si level K ga ribut, kita nyobaik semua baju di kubik gue. Tita marah-marah karena cardigan ungu yang kupesan ternyata seleranya Tita. Dia bilang (gue yakin lu bisa membayangkan tampangnya), "I would do anything to have that, Evi." Dia minta Pak Sas bilang kalo cardigan itu bagus di dia, bukan di gue, jawaban si bapak bikin dia manyun. Dia minta tolong ke Mas C, lu tau, bahkan pagi2, jawabannya ngebetein, "Ta... ga ada satu warna yang hanya cocok di satu orang."

Coba kamu ada, pasti lu ikutan nyobaik salah satu cardigan atau mungkin sepatu. Dan bergaya ala Paris Hilton di serial parfumnya dia...

Kangen!! Hiks...

Kantor ga seru lagi.

Mas C and Ibeng berbaik hati nemenin kita nongrong di Kedai Kopi. Sekarang ada menu baru lhooooo... Brownies, muffin, macaroni... plus minumannya. Kartu member juga dah jadi. Kita dapat diskon 11%. Tapi obrolannya ga lucu. Well... Mas C sih cerita sesuatu yang lucu, tapi sebelumnya dia cerita sesuatu yang jorok. Yang mengandung tokai. Jijaaaaaaaaiiii

Coba kalo elu ada...

Hiks... kangen! Lu pasti lagi senang2 sama yayang di Singapur kan...? Huaaa... kangen neh!!

Monday, 20 August 2007

serial geng asik ( asik banget!! )

Kantor ini begitu sumringah waktu ada inisiatif untuk mengadakan perlombaan ( siapa takut ; tantang satu ke yang lainnya ). Tidak ada gengsi, malu atau jaim..mulai dari level gaji ( he?!? ) A sampai I. Lomba cerdas cermat yang aneh ( bunyi belnya aja 'pret', 'tuut' dan 'kluk' apalagi pertanyaanya ), makan kerupuk ( mumpung gratis neeh ), tarik tambang ( cuman buat cowok aja yang serius yang cewek lebih mirip seperti pita penghias di tali tambang ditambah dengan jeritannya..), lomba merias wajah cewek yang dilakukan oleh para cowok ( ini buat apa?.. masak eyeliner jadi lipstick ) gak ada yang cantik, anggun dan menawan lagi, gak ada lagi bodyshop, esteelauder apalagi natasha.. semua teori kecantikan itu berubah total ditangan besi para lelaki kantor.Upacara, pembagian hadiah dan menyanyikan lagu nasional ( kebanyakan lupanya ), perut sakit dengan tawa seharian. Dan hari itu terlihat jelas siapa saja anggota genk asik itu sebenarnya, Semua isi kantor ini adalah anggota genk asik.. hanya satu orang yang nggak mau ikut permainan, yah satu orang dari level "K" yang bukan anggota genk asik!!





Wednesday, 15 August 2007

Celebration of life




“Celebration of life” said this formerly-not-good-looking male creature.
I spent my last vacation in stylish fashion – stylish in my own version. I brought my son Ito to a celebration of life in his grandparents’ hometown. It was a ‘Rasulan’- our local version of ‘Thanksgiving’ day intended to thank God and the spirits who have helped village people to get a good harvest this year. It is always held in Monday Kliwon as it used to be the day when our village was created.

Perayaan dimulai sehari sebelum Rasul. People flock to the market for a major purchase. Beli sayur sembarang lir, bahan buat bikin all traditional delicacies and jangan lupa whole seluruh dunia busy cooking. Masak sayur Lombok (itu sayur Lombok yang katutan tempe, two tempes, a kilo of chili) – eating this is like you are busted when cheating on your boyfriend – a really hard slap on the face. Si Lombok itu akan ditemani peyek, a form of traditional crackers of nuts or black soyas. Tapi seringnya peyek ini kayak pacar yang ndableg banget – keras banget pas dimakan. The nicest ending of the day, kecuali frekwensi ke WC yang meningkat drastis (thanks to jangan Lombok), di Balai Desa ada Klenengan (gamelan instruments) sampe pagi – what a lullaby.

Esuk umun-umun, dah ada yang maen tabuhan. The Reog Dancers are getting ready. These dancers are all tough bastards. Gali-gali tattoan ning njoged tradisionil, elok pol. Jam 8, the departed. First place to Resan (Resan itu pohon beringin yang segedhe Voltus V gak cuma segedhe Gaban) – a hundred-year old banyan tree believed to be the place where elder spirits – village founders rested. Yang padha mau nari burning incense, umak umik (doanya piye ya?) intinya minta ijin mo nari ke seluruh desa. Karena pohonnya a good listener, gak perlu waktu lama doa terus langsung gamelan bunyi lagi.
Mulailah merapatkan barisan wong yang nari itu 16 orang je.

The dancers represent two parties, good party and evil party. Yang partai baik dipimpin Penthul, tokoh yang walopun giginya tonggos tapi putih; yang satunya partai hitam dipimpin Beles, dah tonggos hitam lagi – tapi mereka ini so damn funny, pokoke selucu lomba make - up lah. Ya intinya perang, saling menyerang, putih kalah dulu terus akhirnya menang.
There are two amazing things though. Satu, the swords are real swords , jadi perangnya kayak betula itu wong pedange sampe bocel bocel. Secondly, the dancers harus nari ….. minimal 17 kali, muntah – muntah deh.
Para penari ini yang menjemput offering dari seluruh RT di desa, lalu diantar ke balai desa, untuk diberkati and diperebutkan. Kalo dulu the whole chicken itu yang paling ditunggu and diperjuangkan. Eh, now it seems everybody has turn into vegetarian, yang berebut ayam cuma dikit, kurang seru. Still everybody is fighting for the offering, ngalap berkah katanya.
Puppet show is the last entertainment of the day. Jam 9 malem mulai tapi yang nonton, wuuiih ratusan bahkan ribuan, yet they sit in orderly fashion rapi banget – semua bisa liat, sesuatu yang sudah susah dilakukan bangsa ini. Sampai balita2 aja diajak nonton lho, bahkan banyak yang naik truk bareng – bareng kayak kambing kurban mo disembelih pokoke.
The traditional value has not been entirely fading, in fact. Look, people thank God no matter how small they earn. People get in line no matter how long they have to wait. People feed others though they barely feed themselves. And together and equally they sit regardless their color, wealth, looks, smells, anything. What a life to celebrate. Kapan ya ini bisa terus terjadi?

Tuesday, 7 August 2007

Eh tau gak....

Lagi mampet ide neh buat nerusin tulisan-tulisan yang sudah numpuk dari kemarin-kemarin....kenapa ya?
padahal di kepala saya sudah banyak ide buat ditumpahkan...eh waktu coba nulisin malah ada aja yang kelupaan, yang pada akhirnya malah gak jadi apa-apa...

Malahan lagi kreatif banget mikirin ya seperti kata Evi, alasan untuk resign:
1. Jaga Showroom
2. Chase my lifelong dream by becoming the next Britney Spears
3. Yang paling keren " mau jadi pertapa di Tibet...jadi muridnya Babuji kayak Richard Gere"
4. Yang paling gak ada matinya "i'm having enough with what i'm doing...."

Banyak Alasan untuk Resign

Tiga kali pindah tempat, aku menggunakan alasan berikut untuk resign:
Pertama, Bosan dengan pekerjaan yang itu-itu saja, mulai merasa mapan di posisi itu jadi, ga baik untuk pengembangan diri.
Kedua, well, personal reason, ga asik punya pacar satu kantor dengan boss yang ga bisa membedakan urusan personal dengan profesional
Ketiga, pengen sekolah (walau pada akhirnya ga jadi sekolah)

Tapiiiii...., di kantor sekarang, karena pak bos suka ga mengijinkan orang resignd dengan alasan profesional, maka temen-temen mulai bikin alasan kreatif:

"Saya mau menikah, Pak."
"Saya mau buka toko (kelontong), Pak."
"Saya mau persiapan tunangan, Pak." Lho??

Belakangan ketika CD kirim surat farewell ke semua, temen-temen pada bilang, "Hah?! Pak .... mau kawin lagi ya?" Kekeke....

Kalau nanti aku mau resign kira-kira aku pake alasan apa ya? Paling enak sih nyelesaian kontrak setahun ini, tapi kalo resign di tengah jalan, apalagi alasanku ya? Hmmm...
"Saya ga bisa kerjasama sama Bapak" ?
"Saya mau buka panti pijat Pak" ? (soalnya kelontong dah banyak yang pake, Tita dah ngambil jaga show room)
"Mau buka restoran" ?

Uuuuh... ide kurang kreatip.

Bantuin doooong!!

Friday, 3 August 2007

Name tags

As we are becoming very close to each other, we can already associate some deed or action with someone. I am trying to name tag you according to the first letter of your name. Check and feel it.
Afit : A bag of laughter, an office clown
Budiarto : Big is how you talk
Camelia : Calmly resist her superior
Chairun : Come on ol’ man, hurry up
Desy : Don’t tell me you don’t like shoppin’
Dhian : Definitely alone
Evi : Excuse me, I don’t think so
Hayu : Hate me but I ll still eat mie gelas
Ibeng : Intolerable habit of nose picking
Icut : Indifferent or introvert?
Ita : Intimacy is my new hobby
Lusi : Listen to me
Lusia : Late is a habit
Pitoyo : Punctuality is my long forgotten middle name
Sari : Strangely not behaving herself lately
Tanto : Three hair one head
Tita : Tons of loud words
Yip : Young blood, hot blooded
Yolin : You just wont listen will you?

Thursday, 2 August 2007

Serial Genk Asik (2)-Member lagi


Orang kedua, yang punya tingkat narsis yang hampir sama, kelakuan hampir mirip dan untungnya (ruginya?) mereka ada di tim yang sama adalah pacarnya donal bebek.

Dalam situasi seperti apapun, mau lagi kerja, mau lagi makan, jangan pernah arahkan lensa kamera ke dia, kalau tidak mau dia ngambil posisi 'siap foto'. Pose lengkap. Fuuuiiiiihhh...

Eh... foto yang ini emang ga mempelihatkan dia siap foto. Tunggu, masih ada yang lain kok. Kebiasaan lain lagi dari tante yang satu ini suka belanja. Sukaaaa banget belanja. Amat sangat. Teramat. Setiap kali pulang dari Jakarta, maka ruangannya akan dipenuhi cewe-cewe yang memperhatikan penampilan mereka. Mulai dari cardigan, kemeja, sampe semua pernak pernik lainnya ada di ruangannya. Untunglah seleranya bagus, sehingga semua barang dagangannya habis dalam sekejap hehe.

Serial Genk Asik (2)-Member

Hmmm..., siapakah sebenarnya genk asik itu? (Kok sound like iklan rokok yak?). Menurutku ada:

Cowo sok cakep, yang menganggap kecakepannya itu malapetaka, katanya, "Kita ga bisa mendapatkan semua yang kita inginkan. Contohnya gue, gue ga suka dengan kegantengan gue, soalnya gue jadi sering2 dikejar agen mode!" Gubrak!! Dia yang suka melakukan harassment, dengan plak plak plaknya, sampe kemaren EPM kita penuh curiga menatapnya ketika simulasi kita daulat jadi TL.

Dia, yang selalu ribut, mampir di partisi kita dengan gaya rumpi, yang selalu ribut setiap punya barang baru, mulai dari kemeja pink sampe spokat ijo. Dia yang suka ngibulin Tita waktu tebak-tebakan lirik lagu. Terang aja dia menang, dia cari lirik lagu langsung di google.

Dia yang merusak citra karakter Sayuti dalam OB jadi berubah 180 derajat.

Satu lagi, dia juga tergabung dalam komunitas numpang dot com. Dalam hal ini dia tiada duanya, bayangkan, sore jam 5-an dia dah teriak2 sama Nadirin, "Hoiiii!! Lu mau pulang kaga seh?? Gue ga mau lama-lama nunggu. Ayo pulang!!" Sebenarnya itu ga masalah, kalo motor itu dia yang punya. Lha, motor itu punya Nadirin, dia yang numpang kok malah nyolot yak?

Dia, yang selalu paling gaya kalo difoto!

Dia... yang dengan semua daya upaya rayuan kita, tetap ngotot mau pindah!!